Kamis, 29 April 2010

you love me i love you, am not sure


boys like girls


Two Is Better Than One lyrics

I remember what you wore on the first day
You came into my life
And I thought hey
You know this could be something
Cause everything you do
And words you say
You know that it all takes my breath away
And I am left with nothing

So maybe its true
That I cant live without you
Maybe two is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
I'm thinking two is better than one

I remember every look upon your face
The way you roll your eyes
The way you taste
You make it hard for breathing
Cause when i close my eyes and drift away
I think of you and everything's okay
I'm finally now believing

Then maybe its true
That I can't live without you
Maybe two is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
I'm thinking two is better than one
(oh yeah)
I remember what you wore on the first day
You came into my life
And i thought hey

Maybe it's true
That I cant live without you
Maybe two is better than one
There's so much time
To figure out the rest of my life
And you've already got me coming undone
And I'm thinking
That I cant live without you
Cause maybe two is better than one
But there's so much time
To figure out the rest of my life
But I've figured out
When all is said and done
Two is better than one
Two is better than one.

Rabu, 28 April 2010

berdoa untuk seni

Berdoa Untuk Seni

Keberadaan seni di tengah-tengah masyarakat sudah bagaikan abu dengan api. Keduanya tidak dapat dipisahkan saling melengkapi dan mengisi satu sama lain. Seni dan kebudayaan memang sudah tidak asing lagi dalam perjalanan tumbuh dan hidupnyanya kota Yogyakarta. Masyarakat di kota ini pun senantiasa menyambangi seni dan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Perjalanan perkembangann kesenian di kota ini pun pesat dengan antusiasme para pecintanya yang sangat besar. Dan sekarang pertanyaannya, apakah iya seni dan kebudayaan sudah mendapatkan ruang publik yang cukup luas dan perhatian serta kesejahteraan dari pemerintah di kota ini khususnya?

Permasalahan inilah kiranya yang sempat menjadi kekhawatiran beberapa pemerhati dan pecinta seni di kota ini. Beberapa aspek kehidupan dan sindrom hedonisme yang melanda beberapa kota besar di Indonesia pun tidak luput menyambangi kota Yogyakarta. Hasilnya kesenjangan sosial dimana-mana dan rakyat dari kelas bawahlah korbannya. Fenomena seperti itulah kiranya yang terlihat beberapa tahun terakhir di kota ini. Beberapa contohnya mereka yang bergelut dengan dunia grafiti dan kesenian rakyat Jathilan.

Grafiti merupakan salah satu produk seni yang dianggap cukup mendapat ruang tersendiri di dalam kegiatan ranah seni masyarakat Yogyakarta. Keberadaannya pun sudah tidak asing lagi bagi hampir semua masayarakat, karena memang seni menulis di atas tembok dengan cat sebagai komposisi utamanya ini selain mengandung unsur seni dan keindahan juga banyak mengandung pesan moral dan perdamaian bagi para penikmatnya. Namun di sisi lain mereka yang berjuang di balik seni grafiti ini ternyata jauh dari kesejahteraan dan rasa aman dalam aksi corat-coretnya. Keberadaan aparat keamanan dan sempitnya ruang gerak serta sedikitnya media penyampaian adalah beberapa masalah yang dihadapi oleh para bomber atau grafitor di kota ini. Tidak jarang mereka harus berkejar-kejaran dengan aparat kepolisian karena mereka dianggap mengotori fasilitas umum. Padahal jika kita melihat dari kacamata seni dan sosial, apa yang mereka kerjakan ini justru jauh lebih baik dan ramah dibandingkan aksi gembar-gembor demonstran terhadap beberapa kasus sosial yang menyeruak di masyarakat. Grafiti jauh lebih elegan dan berbobot, pesan yang disampaikan jauh lebih mengenai sasaran karena hasil karya mereka bisa dinikmati oleh masyarakat setiap waktu.

Namun herannya pemerintah pemerhati seni dan budaya di kota ini seolah-olah menutup mata dan telinga atas fenomena tersebut, mereka justru seolah-olah mengiyakan bahwa grafiti dianggap sebagai aksi corat-coret semata tanpa mau sedikit memahami apa makna dibalik aksi corat-coret itu. Padahala seharusnya pemerintah mampu menyediakan media khusus untuk mereka sehingga pemerintah kota juga tidak usah repot-repot menertibkan mereka. Jika demikian secara tidak langsung pemerintah juga dianggap mampu melindungi dan menjaga kegiata seni di kota ini bukan?

Fenomena lain yang sering kita jumpai dan juga cukup memprihatinkan adalah kesenian rakyat Jathilan yang kini keberaaannya hanya dihargai dengan receh rupiah di perempatan. Sungguh memprihatinkan. Di sisi lain seni ini dianggap jauh lebih baik sebagai sarana mengentaskan sebagian masyarakat dari pengangguran dan mampu sebagai hiburan. Tetapi di sisi lain justru ini adalah bentuk keprihatinan atas keberadaan seni di kota ini khususnya. Di perempatan lampu merah, memungut receh rupiah. Hanya sejauh itukah apresiasi masyarakat di kota ini terhadap keberadaan seni? Dimanakah peran pemeritah terhadap keadaan yang demikian? Harga seni ternyata tidak lebih dari beberapa ratus rupiah saja. Sedangkan di beberapa sektor seni yang lain mereka mampu jauh lebih baik. Sebenarnya yang menjadi persoalan ini seni Jathilan atau bukan, tetapi jauh kepada aspek sosial dan respon yang ditimbulkan terhadap keberadaan kesenian Jathilan ini.

Secepatnya pemerintah seharusnya jauh lebih peka dan lebih memperhatikan keberadaan seni dan masyarakat pecinta seni tersebut. Setidaknya mereka mampu menampung atau syukur-syukur memberikan kesejahteraan yang lebih kepada mereka jika memang seni dianggap sebagai sumber penghasilan sebagian masyarakat kita. Mulai sekarang masyarakat seharusnya juga harus sadar dan mulai “berdoa” agar apa yang masyarakat cita-citakan tentang kehidupan seni di kota ini dapat terealisasikan dan mendapat ruang gerak yang lebih leluasa. Berdoa dalam arti kita berusaha secara spiritual dan berdoa dalam arti mencita-citakan sembari berusaha, menyadarkan dan mencari perhatian pemerintah. Bahwa sesungguhnya seni itu keberadaannya memang miris dan jauh dari kepekaan. Dan untuk pekerja seni yang masih harus “berdoa”, sebenarnya kalianlah simbol-simbol teladan masyarakat kita, mampu survive di tengah-tengah fenomena hedonisme yang semakin menjadi-jadi dan akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Kamis, 22 April 2010

eh

0:08 am


aku hanya percaya dengan Tuhan,
aku bahkan sangat percaya,
aku tidak peduli dengan apa kata orang-orang di luar sana tentang Tuhan,
bahkan terkadang aku bisa meneteskan air mata ketika aku membicarakan Tuhan,


aku harus bergegas sekarang,
berterimakasih kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan, kemudian aku akan menangis sejadi-jadinya kalau aku diingatkan oleh Tuhan . . . sampai tertidur,
(diingatkan tentang 'dia,ia,mereka,entah lagi siapa')


Tuhaaaaann . . .
bersyukur denganmu atau memakimu jika aku selalu Kau ingatkan??


Ingatkan terus saja aku Tuhan,
Ingatkan terus juga dia ya Tuhaaann,


dan terimakasih ternyata hari sudah berganti

Rabu, 21 April 2010

Let Me Down


NO USE FOR A NAME

"Let Me Down"

She's never alone, because she's scared of what she might say to herself
Always drinking in the backroom of the bar where everyone turns in
A half-hearted grin
She won't be afraid as long as that prescription keeps going through
And all the happy pills make her look like cardboard cut out of someone,
I use to learn from
But on the phone, she's telling everyone,
that there was a blue sky, she left behind
And there's a place that no one knows about,
Away from integrity she writes a book in her head that nobody will read
Whatever you say, please don't talk about the time when she was young
Apparently that was a different person and so long ago it's strange to me,
there's no history
But there's a past and she's telling everyone It must be a garden,
that wouldn't grow
With roots of shame, too sensitive to blame to herself as we watch he drown,
I can't save the queen without a kingdom or a crown
Somewhere in this lonely game of sympathy there is a selfish dream
That makes me sick
Standing on the high wire while you're on the ground
To you what is dangerous is safe and sound...
You let me down

aku dan kamu seperti puzze ya :)

aku dan kamu,
selalu merasa seperti air dan minyak,
kadang kadang merasa seperti air dan api,

jadi,
merasa tidak pernah bisa bersatu,

padahal pernahkah kamu berpikir,
kalau kita justru seperti puzzle, yang berserakan dan merasa juga susah disatukan,
tapi apakah juga kamu pernah berpikir?
puzzle-puzzle itu sangat bisa bersatu, bahkan oleh pembuatnya puzzle-puzzle itu adalah suatu kesatuan,
yang saling melangkapi satu sama lain jika disatukan?

yah sama seperti kita,
kita seperti puzzle!

hanya butuh waktu,
entah untuk mengerti kemudian merasa untuk melengkapi,

Tiga Titik Hitam

Tiga Titik Hitam!

Bimoli : “Hai J

Maxim_antilengket : “?”

Bimoli :”Boleh gabung?”

Maxim_antilengket :”yaa, asl pls?”

...

Yaahh... semuanya berawal hanya seperti itu. Saling menyapa, berkenalan, bercanda, terus dan terus. Biasa saja, standar! Selanjutnya Maxim dan Bimoli terlibat pembicaraan dan pembicaraan, hampir setiap hari, setiap malam, dalam dunia maya. Begitulah mungkin fenomena sebagian besar orang jaman sekarang bersama teknologi mereka. Menemukan orang baru, bahkan dekat, dan kemudian dan selanjutnya. Sudah bisa ditebak. Gampang, tanpa banyak bicara, hanya duduk berjam-jam di depan layar komputer mereka, dan bertemulah.

Dan tanpa terasa sudah tiga bulan pertemanan itu berlangsung, setiap malam, setiap hari. Mereka membicarakan diri mereka masing-masing, kehidupan mereka, dan semua dan semua tentang mereka. Dengan tulisan, yaa hanya dengan itu. Tidak pernah bertemu bahkan hanya sekedar untuk bertelewicara atau bahkan copy darat. Tapi anehnya aku nyaman-nyaman saja dengan hubunganku bersamanya, bahkan aku tidak peduli dengan perkataan orang lain, termasuk sahabatku sendiri, Lolipop. Semakin hari, aku semakin merasa sangat cocok sekali dengan Bimo. Dia yang kucari selama ini, yah! Aku menemukannya.

Namun tidak dengan sahabatku, Loli justru menganggap aku semakin hari semakin gila. Namun inilah yang aku tunggu-tunggu, aku dibuat gila, kegilaanku inlah yang justru menurutku telah membuat hidupku sempurna. Loli juga tau, sudah lama aku menunggu seseorang yang bisa meluluhkan kekukuhan hatiku. Heemhh, jika memang ini jalan Tuhan, kenapa tidak, aku juga tidak akan ambil pusing dengan pendapat orang, termasuk sahabatku, yang penting aku sudah merasa hidupku sempurna! Yah sempurna!

Bimoli :”So nice to meet you here dear.”

Maxim_antilengket :”Yess, me too, u make me perfect Bimo J

...

Begitulah, aku hampir tidak pernah kehilangan Bimo seharipun. Kami selalu menyempatkan diri untuk duduk berjam-jam di depan layar komputer, sampai mata dan jari-jari kamu lelah, bahkan tanpa sadar pagi sudah datang saja. Tapi,oh! Aku hampir lupa. Kemanakah Loli? Sahabatku yang selama ini menduduki posisi Bimo dalam hidupku. Aku melupakannya, yah melupakanya. Tapi maaf, dalam hal ini memang mungkin aku sudah egois denganmu sahabatku. Cepat-cepat kuraih handphone ku dan aku telepon dia.

“Hemmhh, kemana aja? Besok selesai jam kerja kita ngopi yuuk? Aku kangen nii sama kamu,hehe”

“Heemhh, numben aku kalah sama Bimoli kamu?”

“Aahh, suka gitu deh, oke see ya there!”

“Hehe, oke”.

Sore itu kami berbincang di kedai kopi langganan kami. Menceritakan banyak hal yang sempat terlewatkan karena kesibukanku dengan dunia baruku. Hingga akhirnya perbincangan kami berujung pada Bimoli.

“Kok baru ngerasa seolah-olah jatuh cinta dan merasa hidup sempurna baru sekarang? Sama Bimo yang notabene nggak jelas, cuman itu yang aku sayangin. Udahan aja deh, yang wujudnya nyata masih banyak loh.”

“Dari awal kamu nggak suka banget deh kayaknya.”

“Maxim sayaaang, masih banyak hal yang harus kamu tahu, jangan terbawa suasana. Sesempurna apapun dia di matamu dan menyempurnakan hidupmu sekarang. Ketemu deh sekali-kali.”

Perbincangan kami semakin membuat mood ku sore itu berantakan. Aku hanya ingin menikmati hidup menjadi manusia normal seperti sekarang. Bisa jatuh cinta! Beberapa hari selanjutnya aku sudah tidak bertemu lagi dengn Lolipop, kami sudah sibuk dengan dunia kami sendiri-sendiri. Aku merasa semakin sibuk dengan maksud di setiap perkataan Lolipop tentang kondisiku sekarang, tapi...sudahlah, aku hanya ingin menikmatinya. Meskipun aku sadar ada banyak juga benarnya perkataan dan perhatian sahabatku itu. Aku juga kenapa selama ini tidak pernah berusaha untuk bertemu dengan Bimoli. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi saja, aahh... akan aku coba.

Maxim_antilengket : ”Kayaknya kita perlu ketemu deh, sekali-kali aku penasaran sama kamu boleh dong J

Bimoli :”Boleh, i feel so baby J

...

Selanjutnya kami menetukan tempat dan waktu yang tepat. Untuk bertemu dan melanjutkan semuanya. Semakin merasa sempurnalah dunia imajinerku dengannya. Menjadi kenyataan dan sesempurna yang ada dalam dunia kami berdua. Hingga pada suatu sore dimana hari penentuan kesempurnaanku datang, aku menyambut hari itu dengan luar biasa. Seperti perasaanku dengan dunia imajinerku selama ini. Aku masih merasa sehat, dan...normal! Yah, seperti itu. Sahabatku pun tak lupa aku bagikan kebahagiaanku hari itu.

“Selamat yah Maxim. Akhirnya hari ini datang juga. Pesanku, siapkan dirimu baik-baik. Itu saja. Aku hanya ingin melihatmu bahagia.”

Aku hanya menyambut kata-katanya dengan senyum dan pelukan hangat. Kemudian aku melangkah mantap menuju tempat dimana aku akan bertemu dengan Bimo.

Lebih dari satu jam ...

Aku sudah hampir bosan menunggunya. Aku juga terlalu bodoh, selama ini aku bahkan tidak pernah tau nomor teleponnya apalagi dimana Bimoliku tinggal meskipun dia mengaku masih satu kota denganku. Hanya mengandalkan Yahoo Messenger, yah aku terlalu percaya pada aplikasi itu rupanya. Sudah lebih dari satu jam aku menunggunya dan teaap tidak ada tanda-tanda kehadiran Bimo, aku pun hanya bisa menunggu tanpa bisa berusaha apapun. Hingga akhirnya yang justru datang menghampiri mejaku adalah Lolipop, dia duduk dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, dan akupun menyambut uluran tangannya, dan dia pun berkata,

“Bimoli. Panggil aja aku Bimo. Maxim, maaf ya, akulah Bimolimu selama ini.”

Awalnya aku pikir itu hanya bercanda, tapi dalam ketercenganganku aku jadi percaya, apakah benar apa yang ada di depanku ini adalah orang yang dartadi aku tunggu? Hingga beberapa menit kemudian aku hanya terbelalak sambil terus menjabat tangannya. Pikiranku berkecamuk. Inikah ujung kesempurnaanku? Bimo yang sudah membuatku merasa hidup menjadi orang yang normal? Bimo yang selama ini aku anggap sebagai seorang laki-laki imajiner paling sempurna dalam hidupku. Masihkah aku ini normal? Bimo yang sudah berhasil membuatku setiap hari memikirkannya, pernah membuatku merasa sangat jatuh cinta? Bahkan aku sendiri pernah dibawa Bimo mencapai sebuah titik orgasme paling sempurna dalam hidupku, ternyata adalah seorang perempuan? Sahabatku sendiri? Inikah ujung kesempurnaanku?

Kemudian, Loli melepaskan jabatan tangannya, tersenyum kemudian meninggalkan aku setelah mengecup keningku. Loli pergi tanpa sepatah katapun, pergi begitu saja. Tinggal aku sendiri bersama pikiranku. Hingga akhirnya aku menarik kesimpulan. Inilah jawaban dari kegelisahanku juga dengan kata-kata Loli waktu itu.Sedangkan Bimoli, dia tetaplah tiga titik hitam dalam hidupku, tidak terdeskripsikan, abstrak. Akhirnya, sahabatku Lolipop adalah Bimo yang sesungguhnya. Aku tidak peduli dengan kenormalanku atau bahkan kesempurnaanku, aku sudah egois ternyata. Bahkan sampai-sampai aku sendiri masih kesulitan menafsirkan apa maksud ini semua, semuanya abstrak, dan hilang begitu saja.

Keesokan harinya, aku sudah tidak menemukan Lolipop, dia dan Bimo menghilang. Aku sudah tidak bisa menemukan kembali jejaknya. Rumahnya kosong, dia sudah pindah dari tempat kerjanya, dan semua nomor teleponnya sudah tidak ada yang bisa dihubungi. Yah! Mereka menghilang ... Sedangkan aku, terombang-ambing dan terseok-seok sendiri menafsirkan apa maksud ini semua, semuanya abstrak, tanpa makna ...

ASU

ASU

Siapa menanam pasti akan menuai. Kiranya itulah peribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan Bajan. Sebelumnya alangkah baiknya kalau kita mengenal sedikit tttytymengenal siapa Bajan. Bajan adalah seorang laki-laki paruh baya yang sangat terkenal di kampung bahkan di kampung-kampung sekitar kampungnya. Kekayaannya yang tiada tertandingi, ladang dan sawahnya yang berhektar-hektar dengan hasil pertaniannya yang melimpah ruah, sapi dan kerbaunya yang bertebaran dimana-mana ketika hari mulai pagi, rumahnya yang seperti istana raja dan tentunya profesi utamanya yang sebagai rentenir. Bajan punya pengawal-pengawal yang berpostur tubuh besar dan sangar yang akan siap menghajar siapapun yang berani membangkang Bajan.

Secara fisik, Bajan juga tergolong laki-laki yang cukup tampan. Di usianya yang sudah memasuki kepala empat itu Bajan masih bisa dengan mudah menggaet perawan-perawan desa, apalagi dengan iming-iming harta Bajan yang tiada tertandingi itu. Perawan-perawan desa itu juga terlalu bodoh sebenarnya, mereka dengan mudah diiming-imingi tetapi dengan mudah juga mereka diperawani, dimanfaatkan sehabis-habisnya, bahkan disiksa, kemudian yang terakhir dicampakkan. Yah, begitulah sekelumit cerita mengenai Bajan dan segala kejayaannya serta kekejamannya, hingga pada suatu hari Bajan menuai semua apa yang telah ia tanam. Kekerasan, kekejaman, kecurangan, kelicikan, pokoknya semuanya. Tuhan dengan mudah menghukumnya lewat keanehan yang tiba-tiba terjadi pada tangan Bajan, entah mengapa.

“ Aaaaarrrgghhh !!! ASU !!!”

Teriak Bajan setiap kali dia mencoba menulis namanya di atas kertas. Keringatnya mulai bercucuran sebesar-besar biji jagung, tangannya mulai dingin dan berkeringat, jantungnya berdegub kencang, kepalnya pusing.

“ Sudah hampir seratus kali aku mencoba menulis namaku dengan baik tetapi bunyinya tetap saja ASU. Ada apa ini sebenarnya?”

Menulis namanya berulang-ulang kali dari pagi sampai malam adalah kegiatan rutin Bajan setiap harinya, sekaligus kegiatan yang sangat menyiksa dirinya. Hampir setiap malam dan hampir pula dua bulan ini Bajan tidak pernah bisa tidur karena memikirkan permasalahan yang kali ini tidak bisa ia selesaikan dengan uang.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Kenapa aku jadi tiba-tiba seperti ini? Segala usaha sudah aku lakukan, pergi ke dukun, ke kyai, beli obat cina yang harganya selangit, semuanya! Nihil hasilnya! Aku benar-benar sudah putus asa kalau seperti ini, ingin rasanya aku memotong kedua tanganku.” gerutunya sambil hampir menangis.

Akhirnya, Bajan pun mendapatkan informasi dari beberapa orang bahwa di kota ada seorang dokter yang ahli potong. Dokter itu biasa menangani orang-orang yang ingin memotong salah satu organ tubuhnya. Mendengar informasi tersebut semakin mantaplah Bajan untuk berniat memotong tangan kanannya. Keesokan harinya Bajan pun bergegas berangkat ke kota untuk mencari dimana dokter itu membuka prakteknya. Setelah menempuh perjalanan seperdelapan hari, sampailah Bajan di tempat dokter ahli potong tersebut.

“Bapak Bajan?” Panggil perawat, pertanda Bajan memasuki gilirannya.

Kemudian Bajan segera memasuki ruangan praktek dokter tersebut.

“Selamat siang bapak, ada yang bisa saya bantu? Tapi sebelumnya apakah Anda benar-benar sudah membulatkan tekad untuk melaksanakan niat kedatangan Anda kemari? Saya tidak ingin ada pasien saya yang kemudian menyesal setelah dipotong bagian tubuhnya.” Begitu kata sang dokter kepada Bajan.

“Tidak dokter, kali ini saya benar-benar sudah membulatkan tekad untuk memotong tangan kanan saya. Saya sudah capek dan ingin hidup normal.”

“Bolehkah saya tahu apa permasalahan saudara?”

“Tangan kanan saya ini tidak pernah bisa menulis nama saya dengan benar. Setiap kali saya menulis nama saya bunyinya Asu. Saya tersiksa sekali dengan keadaan saya ini dokter. Saya ingin membuang kutukan ini dengan memotong tangan saya, tolong bantu saya dokter.”

“Emm, kutukan? Baiklah. Sebelumnya sekali lagi saya yakinkan apakah Anda benar-benar sudah ikhlas?”

“Sudah dokter. Cepat potong tangan saya sekarang juga!” pintanya dengan agak sedikit kesal.

“Oooh...tidak semudah itu. Sebelum saya memotong bagian tubuh pasien saya, biasanya saya selalu melakukan analisis permasalahan terlebih dahulu kepada pasien-pasien saya. Barangkali setelah malakukan diskusi yang sangat panjang, si pasien mampu berpikir lebih baik dan membatalkan niat untuk memotong bagian tubuhnya.” kata dokter.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Baiklah, sekarang coba ingat-ingat apakah Anda dulunya sering melakukan hal-hal yang mungkin...maaf, kurang baik dengan tangan Anda? Sehingga Tuhan memberikan kutukan ini kepada Anda? Atau mungkin tangan kiri Anda merasa iri dengan tangan kanan Anda yang sering Anda pakaikan cincin atau gelang, menghitung uang banyak, membelai gadis-gadis cantik. Sedangkan tangan kiri Anda hanya melulu untuk melakukan hal -hal yang berurusan dengan kakus?”

“Emm, mungkin iya. Di kampung saya berprofesi sebagai rentenir, dulu saya selalu melakukan hal-hal yang kejam kepada orang lain, kepada para wanita di kampung saya. Orang-orang selalu memaki saya dengan sebutan Asu! Sekarang saya benar-benar telah menyesal dokter, saya juga baru sadar aklau apa yang sudah saya perbuat selama ini dengan tangan saya ini biadab sekali.”

“Apakah Anda yakin hanya itu saja?”

“Emm, yah Anda benar dokter, mungkin tangan kiri saya merasa iri. Aaaarrgghh...sudah sudah!!! Saya suah bosan Anda tanya-tanya terus, cepat segera potong tangan saya!!!”

“Oooo...tunggu dulu, tidak segampang itu. Saya belum melihat sendiri bagaimana cara kerja tangan Anda ketika menulis nama Anda sendiri saudara Bajan. Sekarang bolehkah saya melihat kerja tangan Anda?” kata dokter sambil menyodokan selembar kertas dan sebatang pena.

“Jangan membuat saya semakin gila dokter.”

“Coba dulu. Ayo segera lakukan. Baru saya akan mengambil keputusan bagaimana sebaiknya tangan kanan Anda. Jika memang harus dipotong saya akan sesegera mungkin memotongnya. Sambil Anda menulis, saya akan siapkan alat-alat potongnya.”

Bajan benar-benar bekerja mati-matian hanya untuk menulis namanya sendiri. Hampir satu jam keringatnya bercucuran, segala tenaganya dikerahkan, jantungnya berdegub kencang, tangannya bergetar, kepalanya serasa mau pecah.

“Ya Tuhan! Selamat saudara Anda sekarang tidak perlu memotong tangan Anda. Lihatlah Bajan, lihat! Tangan Anda sudah bekerja dengan sangat baik dan menulis nama Anda dengan benar meskipun Anda melakukannya dengan susah payah.”

“TIDAAAAAAAAAAAAKK!!! Tidak dokter!!! Potong tangan saya sekarang juga cepaaaaaaaaaaaaaaatt !!!!” teriak Bajan sampai hampir menangis karena sudah habis kesabarannya.

“Tenang saudara, tenang. Coba sekarang Anda lihat dan ucapkan pelan-pelan nama Anda. Mari saya bantu.”

“Tidaaaaak dokter!!!! Tidaaaaaaaaakk!!!”

“Ayo, coba dulu saudara.”

Akhirnya Bajan pun menuruti kemauan dokter. Bajan menangis sejadi-jadinya, mukanya merah, pikirannya berkecamuk serasa ingin mati menghadapi kenyataan. Setelah menunggu beberapa menit Bajan pun membuka mulutnya dan membaca namanya.

“ASU!”

Bajan pun menunduk lemas dan terus menangis sekencang-kencangnya.


MAAF... ini sengaja judulnya dibikin 'sangar' biar 'nggetih' kata Pak Aprinus,

hehe